Seekor Ulat Dimata Manusia..!!

Pernahkah terpikir kembali oleh seorang manusia bagaimanakah menderitanya jika terlahirkan sebagai makhluk yang paling kecil, paling tak berdaya, paling dibenci oleh orang lain. Tapi justru dibalik itu ternyata tersimpan sebuah kebahagiaan yang paling mendalam, paling luar biasa yang tak pernah dirasakan oleh orang yang tak pernah mengalaminya.
Mungkin, demikianlah yang ingin disampaikan oleh sekor ulat yang tak bisa berbicara kepada manusia. Disaat seorang anak manusia melihat seekor ulat disebuah tong sampah, atau seekor ulat sayuran berbaring di daun bayam, mungkin sedang tertidur, saat itu manusia akan berteriak, Ih….ada ulat….iiihhhh…geli, tolong jauhkan ulat itu dari saya, tolong jangan sampai ulat ini mengenai tangan saya, tolong buang jauh-jauh…..ucapan demikian begitu sering terngiang di telinga kita, tak salah lagi karena kita selalu menganggap ulat adalah binatang paling menakutkan, mengerikan, menggelikan dan paling bau, paling jorok, paling kotor, sehingga kita tak peenah memberikan kesempatan sekalipun bagi sang ulat untuk menjadi sahabat dekat kita.
Tak pernah kita memberikan tempat yang baik dan aman untuk seekor ulat yang ingin menyambung nyawanya di dunia ini. Tak banyak sebenarnya tempat yang diperlukan seekor ulat untuk hidup, bahkan jika kita mau berpikir luas dan lebar, diatas selembar bayam sekalipun, mungkin bisa menghidupkan dua tiga ekor ulat yang tak berdosa. Sayang manusia terlalu kejam dan angkuh, tak ada waktu untuk berpikir demikian. Sebetulnya kalau sang ulat-ulat itu protes, mereka akan demon dan mengatakan manusia terlalu kejam untuk seekor ulat. Betapa tidak, kerja keras seekor ulat selama ini tidak pernah diindahkan oleh manusia.
Ulat bekerja keras di dalam tong sampah. Sanggup hidup diantara kotoran-kotoran yang busuk, bau, tidak bersih, hanya demi satu tugas untuk menguraikan sampah-sampah sisa-sisa kotoran yang dibuang oleh manusia. Ulat juga rela ketika dirinya harus dihina oleh manusia yang memandangnya, terkadang hal yang paling menyakitkan pun terjadi pada diri sang ulat. Ketika manusia melihatnya, orang itu akan geli dan membuang air ludah, begitu mencemoohkan dirinya. Bahkan ada lagi orang yang begitu tahu ada ulat

mereka langsung menyiksa ulat tersebut, tak rela orang itu jika sang ulat berumur panjang.
Kalaulah ulat diberi kesempatan berbicara, maka ia akan berkata kepada Tuhan, dunia ini terlalu kejam, tiada prikemanusiaan, terlalu banyak penindasan. Kawan, marilah kita intropeksi kedalam diri, ulat yang kecil tak berdaya itu diciptakan oleh Tuhan bukan hanya untuk disiksa dan dihina. Dia bukanlah diciptakan hanya untuk ditindas oleh manusia. Ulurkanlah tali kasih kita, jangan tindas mereka. Buktikan kepada Tuhan, kita bisa hidup damai dengan sesama. Buktikan kepada dunia bahwa cinta kasih itu bagian dari hidup kita dan tujuan pembinaan kita yang tak rela makhluk sekecil apapun ditindas. Terakhir mari kita berikan ciuman kasih kita untuk sang ulat tercinta, dan bisikan rayuan manis untuk ulat, kemudian katakan kepadanya:
“Oh ulat yang baik, mulai hari ini kita berteman lho…akan kujadikan engkau sahabatku, akan kubiarkan engkau menikmati hidup di dunia ini, takkan kuganggu dirimu hanya demi kepentingan pribadiku, marilah kita hidup bersama, engkau punya jalan sendiri, demikian pula aku. Ulat, terakhir tulisanku tentangmu, aku ingin jujur kepadamu, bahwa : “Aku sayang kamu.” Karena kutahu engkau adalah makluk yg diciptakan tuhan seperti aku.!

kita mudah untuk menghargai yang besar .. namun sangat sulit sekali menghargai yang kecil ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s