[Renungan] Adikku, Malaikatku…

Kulihat kembali tumpukan surat kabar di rak meja ruang tamu. “Kecelakaan Garuda Tewaskan Ratusan orang,” itulah topik yang selalu diberitakan dan menjadi hampir di semua surat kabar nasional yang terbit sekitar sebulan lalu. Tragedy itu jugalah yang menewaskan kedua orang tuaku dan membuat adikku satu-satunya terbaring koma sampai detik ini. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah, dan benci yang teramat sangat. Kalau saja Tita adikku, tidak selalu merengek ingin liburannya ke Paris, pasti kecelakaan itu tidak akan membuatku, yang masih menjadi mahasiswa tingkat III, menjadi yatim piatu secepat ini.

Mungkin predikat anak sial yang kudeklarasikan untuk Tita memang tidak salah. Selama 15 tahun kurasakanbetapa bahagianya menjadi anak tunggal yang selalu dimanja. Orang tuaku yang merupakan pengusaha sukses selalu memberikan apapun yang kuminta. Tapi kehadiran seorang adik di tengah-tengah kami menjadikan hidupku berubah 180 derajat. Mama lebih memperhatikan Tita, dan menyuruhku selalu mengalah. Tidak hanya itu, kedua orang tuaku pun selalu membelanya meskipun jelas-jelas Tita-lah yang bersalah. Ibarat putri raja yang seketika menjadi anak tiri. Menyebalkan !!! Kebencian itu sudah kupupuk semenjak mama dinyatakan positif hamil. Dan setiap hari hanya stress yang aku rasakan bila sudah berada di dalam rumah, karena tidak ada sedetik pun yang terlewat bahi Tita untuk tidak mengganguku.

Kejadian kecelakaan itu tidak membuat setitik pun rasa iba, bahkan kebencianku semakin memuncak padanya. Dialah yang merebut kebahagiaanku, dan dialah yang telah merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kejadian itu benar-benar membawa kesialan bagi kehidupan pribadiku. Aku sudah tidak ada waktu lagi untuk jalan dengan teman-temanku. Bahkan Indra, pacarku, memutuskan hubungan kami hanya karena aku terlalu sibuk dengan Tita. Selama sebulan di rumah sakit, aku baru menjenguk Tita 3 kali, itupun hanya untuk mengurus administrasi dan sekerdar formalitas di depan dokter saja.

Hari ini aku menjengik Tita. Gadis kecil yang diperlengkapi dengan selang dan alat bantu kehidupannya lainnya itu, terbaring di ruang ICU yang cukup luas dan bernuansa putih-putih. Saat melihat wajah itu hatiku selalu menjerit, “Dasar Pembunuh!! Kenapa kamu tidak mati saja sekalian! Anak sial, kamu tidak hanya merebut mama dan papa tapi teman-teman saya, Indra, dan semua kebebasan saya!!” tak terasa air mata mengalir di pipiku, bukan air mata kesedihan, tapi jelas air mata kebencian. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawanya saja sekalian. Kehidupannya hanya akan menjadi beban seumur hidupku!!

Tak kuasa menahan tangis, akhirnya aku keluar menuju taman rumah sakit dan duduk di salah satu bangku taman yang terlindung sengatan matahari oleh sebuah pohon yang rindang. Dan di situlah air mataku mengalir deras. Tiba-tiba kusadari ada gadis kecil dengan rambut dikuncir dua sedang memperhatikanku. Seketika itu pula aku teringat Tita, dan kebencian itu mendidihkan darahku kembali.

“Ngapain sih? Tidak ada kerjaan apa ngeliatin orang nangis. Anak kecil kayak kamu bukannya sekolah malah main-main di rumah sakit!” bentakku.

Yang dibentak hanya tersenyum.

“Namaku Rara, kakak siapa?”

“Yee… nih anak bukannya pergi. Udah deh, kakak lagi stress, jangan bikin kepala kakak jadi mumet.”

“Semua orang yang ke rumah sakit pasti mumet, tapi itulah hidup, kadang sehat, kadang sakit. Orang suka lupa sama tuhan kalau lagi sehat, tapi kalau sakit, apalagi deket-deket mau meninggal, eh bukannya taubat malah nyalahin Tuhan, kok tuhan ngasih cobaan seberat ini,” jawabnya yang membuatku melongo.

“Ih, dasar anak kecil sok tahu!!”

“Aku tahu, adik kakak sedang koma ya”

“Gak usah dibahas deh!! Gara-gara dia, mama dan papa meninggal.”

“Dia beruntung karena dia masih punya kakak. Aku juga sakit. Suatu saat nanti Tuhan akan mengambil penglihatanku, tapi aku yakin Tuhan akan membantu dalam kebutaanku karena Dia selalu adil pada semua orang, dan tidak akan membiarkan seorangpun mendapat cobaan yang tidak bias ditanggungnya.”

***

Kejadian hari itu benar-benar telah membuka mata hatiku. Seorang anak kecil telah mengajarkanku arti kehidupan. Ia benar, Tita hanya tinggal memilikiku. Aku tak pernah membayangkan bagaimana perasaannya saat ia tahu mama dan papa telah meninggal.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku malah merindukan kehadiran Tita. Rumah ini benar-benar sepi tanpa canda dan kata-kata polosnya yang selalu membuat mama terpingkal-pingkal. Kulangkahkan kakiku ke kamar Tita di lantai atas. Kamar yang bernuansa pink, gambar kartun dimana-mana. Kamar yang tak pernah kudatangi sejak tragedi itu.

Tiba tiba mataku menangkap sebuah buku harian bergambar mickey mouse. Kubuka lembar demi lembar. Tak kusangka gadis berusia 7 tahun itu menulis segalanya tentang diriku.

“Kak Aurora adalah kakak paling cantik di dunia. Aku sayang padanya, amat cinta padanya. Aku hanya ingin kakak bahagia, aku ingin seperti teman-teman, aku ingin kakak mengajakku jalan-jalan, aku ingin kakak mengajariku matematika, karena dia sangat pintar. Tapi kok kakak tak pernah mau ya?? Aku sedih. Aku pernah Tanya sama mama apa kakak membenciku, tapi kata mama kakak sangat saying padaku, dia Cuma tidak enak badan, makanya malas ngomong sama aku. Aku suka ngejailin kakak, karena aku mau main sama kakak, tapi aku sedih karena kakak menampar mukaku. Aku tidak bilang sama papa, takut kakak dimarahi, dan nanti malah membenciku. Aku nangis semalaman saat kakak membuang kado ulang tahun yang aku kasih, padahal aku membeli kado itu dengan uang jajan yang aku tabung selama seminggu, sampai-sampai aku lapar karena tidak bisa jajan. Kakak,marah-marah waktu baju pestanya bolong. Tadinya aku Cuma ingin menyetrika baju itu biar tidak kusut, tapi pas lagi nyetrika, aku dipanggil mama, eh aku lupa, bajunya jadi bolong, terus aku dimarahin abis-abisan deh.

Diari, aku punya rahasia besar!! Kakak kan punya pacar namanya Indra, tapi aku tidak suka sama dia!! Aku tau dia punya pacar lain, kak veronica, sahabat kak Aurora. Aku pernah liat meraka mesra-mesraan waktu aku nganterin mama ke mall. Tapi aku tidak berani bilang karena aku takut kakak marah dan tidak percaya, aku takut ditampar kayak waktu itu. Asyiik… besok aku ke Paris sama mama dan papa, tapi kakak tidak ikut karena lagi ujian, tapi aku janji akan beliin oleh-oleh yang buaaaanyak untuk kakak. Aku ingin kakak juga bahagia…”

Air mataku mengalir deras, kapalaku seperti terhantam ombak. Ya Tuhan, bagaimana selama ini aku menyia-nyiakan adik kandungku. Kecintaannya kepadaku yang mendalam malah kubalas dengan kebencian yang membara. Kado itu, baju pesta itu, dan tamparan yang merupakan puncak kekecewaanku, rahasia tentang Indra…..BODOH!!! Kamu adalah manusia yang paling kejam di dunia, Aurora. Adik yang bagaikan malaikat itu telah kau sakiti hatinya! Telah kau robek perasaannya! Adik yang selalu mengingatmu dan selalu berusaha untuk membahagiakanmu, malah kau tindas! Aku kembali teringat dengan tamparan itu. Aku menamparnya dengan sangat keras, sampai pipinya benar-benar merah, tapi ia hanya tersenyum dan bilang “Terima kasih, Kak.”

Ya Tuhan, izinkan aku untuk menebus dosa dan kesalahanku. Tapi….semua itu terlambat. Tepat pukul 23.00 WIB malam itu, pihak rumah sakit meneleponku dan mengabarkan Tita telah pergi untuk selama-lamanya.

Sekarang aku sendiri, hanya sendiri. Permohonan bodohku agar Tuhan mengambil nyawa adikku benar-benar terkabul. Seminggu setelah pemakaman Tita, aku kembali ke rumah sakit untuk menemui Rara, tapi pihak tumah sakit mengatakan bahwa Rara telah meninggal semingu yang lalu. Ia terlindas truk, karena pada saat menyeberang, penyakit gloukoma yang selama ini dideritannya telah menyebabkan kebutaan yang mendadak, sehingga ia tak mampu melihat saat ada truk yang melintas. Rara adalah gadis kecil yang selama ini dirawat oleh pihak rumah sakit. Dulu, Rara ditemukan di sebuah selokan karena dibuang oleh ibu kandungnya sendiri.

Dua orang gadis kecil yang telah mengajariku arti kehidupan dan memberikan cinta kepadaku, kini telah pergi untuk selamanya. Hanya penyesalan yang tersisa, tapi itu menjadi pelajaran yang amat berarti untuk masa depanku. Merakalah malaikat kecil yang selalu ada dan tetap aka nada untuk selamanya di dalam hatiku..

Copas dari Kaskus!

Sebuah Renungan : Kakak Orang yang dikereta tadi ya

ini adalah sebuah tulisan yang menyentuh dari seorang teman saya yang berada dikaskus, dari tulisan ini saya merasa tersentuh.. dan membuat saya merasa harus share di blog ini. sekian lama tidak pernah posting. hari ini mungkin sedikit memberi inspirasi orang dari tulisan ini 🙂

Copas dari sini :

Sebenernya pengalaman ini udah agak lama gan, sekitar 1,5 bulan yang lalu. Ane orang bekasi yang kebetulan kuliah di Jogja, 1 bulan lalu pas liburan UAS ane pulang ke bekasi, kebetulan naik Fajar Utama Yogya dari Jogja ke Jatinegara. Ane dapet kursi yang sampingnya ane kosong. Menjelang kereta berangkat ane liat ada cewek yang bawa koper kecil, tapi pake dibawain sama poter (kuli angkut stasiun) padahal kopernya kecil. Dalam hati ane mikir “yaelah koper kecil gitu pake dibawain segala, manja banget sih!”. Ternyata kursi dia juga sampingnya kosong.

Kereta berangkat, ane seperti biasa dan orang2 lain juga pasti ngelakuin itu, berusaha tidur biar kerasa cepet. Ane ga bisa tidur jadi ngamatin orang2 sekitar situ, sesekali orang jualan makanan/minuman masuk (padahal kelas bisnis). Ane liat cewe tadi, dia kok setiap beli makanan/minuman selalu nanyain ke pedagangnya tentang uang yang dia kasih ke pedagang. Ane bingung.

Masuk Cirebon makin banyak pedagang yang lewat, dan pengemis masuk. Lagi2 cewe tadi nanyain tentang uang yang dia kasih ke pengemis. Ane makin bingung. dan anehnya dia dari tadi selalu menggenggam buntelan uang yang bervariasi dari 1000 – 10.000 rupiah. buat apa pikir ane. dan ane dapetin jawabannya.. pas dia lagi mau ngambil makanan di meja kecil depannya, air botolannya jatuh, cewe itu meraba-raba nyari botol itu.. oh tuhan.. ternyata dia buta…

Seketika (mungkin ane sedikit lebay) mata ane basah ngeliat itu.. ya tuhan.. ada seorang buta pergi sendirian.. dalam hati ane berharap ane bisa bantuin dia paling ga sedikit aja. Ternyata doa ane dikabulin, sampai jatinegara, dia awalany dituntun sama polsuska, tapi cuma sampai luar gerbong. dia kebingungan ga ada yang bantuin dia. bodo amat mau dibilang sok pahlawan ane nawarin bantuan

ane : mbak, mau kmana?
cewe : oh saya mau ke rawamangun kak..
a : kalo boleh saya bantu mbak ya.
c : oh terima kasih banyak, saya bingung ga ada yang bantu saya…
a : (saya gandeng dia, jujur, ada rasa malu ketika jadi perhatian orang2 disitu, tapi udah dari tadi saya tekad bantu dia) sambil jalan saya ngobrol sedikit sama dia..
c :kakak pasti orang dari kereta tadi ya?
saya kaget kok dia bisa tau..

a : kok tau mbak?
c : oh bener kan, kakak pasti orang jogja ya?
a : oh bukan, saya orang bekasi, kenapa ngira saya orang jogja? mbak jogja ya? (walopun dari logatnya jelas dia bukan orang jogja)
c : Oh saya kira orang jogja, ga soalnya kakak baik, saya tadi baru pulang dari jenguk kakak saya, pas di jogja saya terkesan sekali, pas waktu saya sampai jogja, banyak orang ganti2an nolong saya sampe ketemu kakak saya, awalnya saya kira mereka minta imbalan, waktu mau saya kasih duit mereka nolak, makanya saya kira kakak orang jogja.. emang kakak ngapain di jogja?
a : saya kuliah mbak
c : dimana? kakak saya juga kuliah di jogja
a : saya di U**, kakak mbak dimana?
c : Oh kalo kakak saya di **I…
a : coba mata saya normal, saya mau kuliah disana. Susah kak kalo jadi orang cacat di jakarta, harus punya duit buat cari yang mau bantuin kemana2. kalo ga punya duit pasti jadi gelandangan….

Selanjutnya kami bicara sampai dia dapet bajaj.. ane titipin ke tukang bajaj biar dianter ke rawamangun..

Ane tertegun. banyak hal yang ane dapetin dari sana, keberaniannya dan tentunya refleksi buat kita semua terutama orang jakarta.. apakah orang buta ini benar2 mencerminkan ke individualisan kita.. dan apakah keramahan dan bantuan tanpa imbalan harus dicari jauh2 ke luar jakarta?.. ane sedih..
maaf kalau ane nyinggung banyak agan2 disini.. cuma sekedar shared.. dan refleksi buat kita semua.. satu lagi harapan ane.. plis jangan hina orang cacat.. jujur ane sering banget ngetawain mereka.. tapi sejak kejadian ini ane malu karena ga punya keberanian setinggi mereka ngarungin hidup.

Sumber dari :

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3431502

Rumah Hantu Amityville

Pada Desember 1975, George dan Kathleen serta anak-anak mereka pindah ke sebuah rumah di 112 Ocean Avenue, sebuah rumah besar bergaya kolonial Belanda di Amityville, sebuah lingkungan di pinggiran kota di selatan Long Island, New York.

Tigabelas bulan sebelum keluarga Lutz pindah, Ronald DeFeo, Jr., pemilik sebelumnya, telah menembak mati enam anggota keluarganya di rumah itu. Setelah 28 hari keluarga Lutz tinggal dirumah itu, mereka mulai merasakan hal-hal aneh dengan rumah tersebut.

Bagian ini berdasarkan buku yang ditulis oleh Jay Anson, 1977, The Amityville Horror – A True Story.

Jay Anson (1921-1980), adalah penulis The Amityville Horror

Rumah bernomor 112 di Ocean Avenue telah kosong selama 13 bulan setelah DeFeo membunuh anggota keluarganya, hingga pada Desember 1975 keluarga Lutz membeli rumah tersebut seharga $80.000. Rumah yang memiliki enam kamar tidur ini dibangun dengan gaya kolonial Belanda, dan memiliki atap yang melengkung. Rumah ini dilengkapi dengan kolam renang dan sebuah rumah tempat penyimpanan kapal. George dan Kathy telah menikah pada bulan Juli 1975 dan mempunyai rumah mereka sendiri, namun ingin memulai kembali dengan memiliki rumah baru. Kathy mempunyai tiga anak dari pernikahan sebelumnya, Daniel (9), Christopher (7), dan Melissa alias Missy (5). Mereka juga memiliki seekor anjing Labrador yang diberi nama Harry. Selama pengecekkan mereka saat akan membeli rumah tersebut, oleh agen mereka telah diberitahukan mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh DeFeo, namun mereka menganggap hal itu bukanlah masalah.

rumah hantu, roghuzshy

rumah hantu, roghuzshy

Keluarga Lutz pindah kerumah tersebut pada 18 Desember 1975. Sebagian besar mebel dari keluarga DeFeo masih ada, karena semuanya termasuk dalam kesepakatan jual beli. Seorang teman George Lutz telah mempelajari tentang masa lalu sejarah rumah tersebut, dan mendesak agar mereka melakukan pemberkatan. Namun mereka tidak mengerti cara-caranya. George mengenal seorang Pendeta Katolik yang bernama Bapa Ray, dan ia bersedia untuk melakukan pemberkatan. (Dalam buku Anson disebutkan nama Pendeta tersebut adalah Bapa Mancuso. Hal ini dilakukan untuk menjaga privasi Pendeta tersebut, nama aslinya adalah Bapa Ralph J. Pecoraro).

Bapa Mancuso adalah seorang pengacara, imam Katolik, dan seorang psikoterapi yang tinggal di Sacred Heart Rectory. Ia tiba untuk melaksanakan berkat pada sore hari tanggal 18 Desember 1975 disaat George dan Kathy sedang membongkar barang-barang mereka. Ketika ia mengibaskan air suci yang pertama dan mulai untuk berdoa, ia mendengar suara dengan jelas yang mengatakan”Keluar!” – “Get out!”. Disaat meninggalkan rumah tersebut, ia tidak menceritakan kejadian itu kepada George maupun Kathy. Pada 24 Desember 1975, Bapa Mancuso menelepon George Lutz dan menasihatkan agar dia tidak menggunakan ruang dimana ia telah mendengar suara yang aneh tersebut. Ruang ini adalah ruangan yang direncanakan Kathy digunakan sebagai ruang jahit, dan tadinya adalah kamar tidur Marc dan Yohanes Matthew DeFeo. Percakapan telepon terputus secara tiba-tiba, dan kunjungan berikutnya ke rumah tersebut mengakibatkan Bapa Mancuso menderita demam tinggi dan pada lengannya dijumpai tanda yang mirip dengan tanda stigmata.

Pada mulanya, George dan Kathy Lutz tidak merasakan hal yang aneh dengan rumah mereka. Namun kemudian, mereka merasa bahwa “masing-masing dari mereka tinggal di suatu rumah yang berbeda”.

Sebagian dari pengalaman keluarga Lutz diuraikan sebagai berikut:

  • George selalu terbangun sekitar pukul 03:15 setiap paginya, dan kemudian keluar ke rumah tempat penyimpanan kapal. Waktu tersebut diperkirakan adalah waktu dimana DeFeo membunuh anggota keluarganya.
  • Rumah mereka selalu diganggu oleh segerombolan lalat di setiap musim dingin.
  • Kathy mendapat mimpi buruk tentang pembunuhan dan saat dimana ia melakukan persetujuan pembelian rumah tersebut. Anak-anak mereka juga mulai tertidur dengan terlungkup, posisi yang sama saat mayat DeFeo ditemukan.
  • Kathy merasakan seolah-olah “sedang dipeluk” dengan penuh kasih oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat.
  • Kathy menemukan sebuah ruang kecil yang tersembunyi (sekitar empat kaki) di belakang basement. Dindingnya bercat merah dan ruangan itu tidak tampak didalam denah rumah. Ruangan itu kemudian dikenal dengan nama “The Red Room”. Ruangan ini memiliki pengaruh terhadap anjing mereka Harry, yang selalu menolak untuk mendekat dan selalu berjongkok seolah-olah merasakan sesuatu yang negatif.
  • Ada udara dingin, bau parfum dan kotoran didalam rumah, dimana tidak terdapat saluran udara atau jalur bagi sumber tersebut.
  • Putri mereka yang berumur lima tahun, Missy, mengisahkan teman imajinasinya yang bernama “Jodie” yang memiliki mata yang sangat merah.
  • George selalu dibangunkan oleh bunyi bantingan pintu depan. Ia akan segera ke lantai bawah dan menemukan anjing mereka tertidur dengan suara keras didepan pintu. Tidak ada orang lain yang mendengar suara itu kecuali dia.
  • George mendengar apa yang diuraikan sebagai “Marching band Jerman” atau suara seperti radio yang tidak di setel dengan frekuensi yang tepat. Namun ketika ia ke menuju lantai bawah, suara gaduh akan berhenti.
  • George disadari bahwa ia memiliki kemiripan kuat dengan Ronald DeFeo, Jr., dan mulai bermabukan di The Witches’ Brew, bar dimana DeFeo adalah salah seorang pelanggannya.
  • Ketika mengecek tempat penyimpanan kapal pada suatu malam, George melihat sepasang mata merah yang sedang memperhatikan dia dari jendela kamar tidur Missy. Ketika ia pergi keatas untuk melihatnya, ia tidak menemukan apa-apa. Kemudian disimpulkan bahwa itu adalah “Jodie”.
  • Ketika ditempat tidur, Kathy mendapatkan bekas merah didadanya disebabkan oleh suatu kekuatan tak terlihat, dan ia diangkat sekitar dua kaki dari tempat tidurnya.
  • Kunci, jendela, dan pintu rumah dirusakkan oleh suatu kekuatan yang tak terlihat.
  • Terdapat belahan kuku binatang yang besar di salju yang kemudian dihubungkan dengan seekor babi besar pada 1 Januari 1976.
  • Dari dinding aula dan lubang kunci dari pintu kamar bermain yang ada di loteng keluar lumpur yang berwarna hijau.
  • Sebuah salib 12 inchi yang digantung Kathy di kamar kecil ditemukan terpasang terbalik dan menyemburkan bau.
  • George tersandung oleh sebuah keramik singa Tiongkok yang memiliki tinggi sekitar empat kaki, yang kemudian meninggalkan bekas gigitan pada salah satu mata kakinya.
  • George melihat Kathy berubah menjadi seorang wanita tua yang berumur sekitar 90-an, “dengan rambut acak-acakan, muka dengan kerutan dan berbentuk buruk, dan air liur yang menetes dari mulutnya yang ompong”.

George dan Kathy Lutz dikelilingi dengan berbagai media yang mengulas kasus mereka

Setelah memutuskan bahwa ada yang tidak beres dengan rumah mereka, yang tidak dapat dijelaskan secara rasional, George dan Kathy Lutz melaksanakan suatu pemberkatan dengan cara mereka sendiri pada 8 Januari 1976. George memegang sebuah salib yang terbuat dari perak selagi kedua-duanya membacakan Doa Para Raja, dan dari ruang tamu mereka, menurut dugaan banyak oang terdengar suara paduan suara yang meminta agar mereka berhenti: “Will you stop!”.

Di pertengahan Januari 1976, dan setelah usaha pemberkatan yang dilakukan oleh George dan Kathy, mereka mengalami kejadian yang kemudian menjadi malam terakhir mereka berada di rumah itu. Keluarga Lutz menilai bahwa segala kejadian yang terjadi sebagai sesuatu yang sangat menakutkan, “too frightening”.

Setelah berkonsultasi dengan Bapa Mancuso, mereka memutuskan untuk mengambil beberapa barang kepunyaan mereka dan memutuskan untuk tinggal di rumah ibu Kathy di dekat Deer Park, New York. Pada 14 Januari 1976, George dan Kathy Lutz bersama ketiga anaknya dan anjing mereka Harry, meninggalkan rumah dan meninggalkan banyak barang dibelakang rumah tersebut. Hari berikutnya, seorang tukang ditugaskan untuk memindahkan barang-barang untuk dikirim ke keluarga Lutz. Ia melaporkan ada fenomena yang tidak normal didalam rumah itu.

Buku ini ditulis setelah Tam Mossman, seorang editor di penerbit Prentice Hall yang mengenalkan George dan Kathy Lutz kepada Jay Anson. Mereka tidak bekerja secara langsung dengan Anson, namun disampaikan melalui rekaman tape yang berdurasi sekitar 45 jam, yang kemudian menjadi dasar bagi penulisan buku ini. Diperkirakan penjualan buku ini mencapai sepuluh juta kopi dari beberapa edisi. Anson dikatakan mengambil dasar judul bukunya “The Amityville Horror” dari “The Dunwich Horror” karangan H.P. Lovecraft yang diterbitkan pada tahun 1929.

Kenapa Babi dan Kera Haram, And Other Beast Animal – part 3

Potensi Membunuh Pada Manusia

Saya ingin melengkapi tulisan saya di atas mengapa Daging Babi atau ham dan binatang fredator lainnya diharamkan dikaitkan dengan hormon yang terdapat pada hewan-hewan tersebut.
Manusia adalah salah satu species di dunia ini yang tidak mempuyai taring dan cakar seperti harimau, tidak mempunyai tanduk maupun gading, Sepeti banteng dan gajah. Tetapi manusia mempunyai “akal”. Dengan akal ia dapat membuat tombak dan pedang, dengan akal ia dapat membuat pistol dan senapang. Manusia adalah salah satu spcies yang cenderung sering membunuh speciesnya sendiri (manusia membunuh manusia). Harimau yang buas tidak membunuh anaknya, harimau yang buas tidak membunuh harimau lainnya (paling-paling hanya berkelahi berebut wilayah teritorial dan berebut hewan betina, tetapi setelah itu bila kalah tidak saling membunuh). Tetapi manusia? Sudah sering kita baca di Koran dan TV, seorang ibu membunuh bayinya, seorang manusia membunuh manusia lainnya hanya gara-gara sebatang rokok dan uang Rp 1000. Ada apakah ini, dimana katanya manusia yang berakal itu? (Iblis-kah yang telah menggoda hati manusia dan menelanjangi akalnya).
Pantas saja Allah menyatakan bahwa dengan “akal” yang dipunyai manusia maka derajat manusia di atas malaikat, tetapi karena akal itu kadang tidak dipergunakan, maka manusia bisa lebih rendah dari hewan. Untuk itu camkan ayat Al Quran berikut ini:

“sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Neraka)”. (QS 95, At Tiin:4-5).

Dalam sejarah kehidupan manusia (zaman Adam), telah terjadi pembunuhan pertama, yaitu pada peristiwa Qabil dan Habil. Qabil mempunyai adik kembar yang cantik bernama Iqlima . Sedangkan Habil mempunyai adik kembar yang bernama Labuda. Menurut ketentuan Allah saat itu bahwa Qabil hanya boleh kawin dengan Labuda, jadi tidak boleh kawin dengan adik perempuan kembarnya yang bernama Iqlima. Tetapi berhubung Iqlima lebih cantik dari Labuda, maka Qabil hanya mau kawin dengan saudara kembarnya saja yaitu Iqlima. Lalu Qabil digoda Iblis dia membunuh saudaranya sendiri yang bernama Habil tersebut. Jadi motivasi membunuh pada Qabil ternyata hanya karena memperebutkan wanita cantik.

Dengan demikian potensi membunuh sudah ada pada diri manusia, Islam-kah Dia, Kristen-kah dia, kafir-kah dia, tinggal akal saja dan hidayah Allah saja yang harus membimbingnya. Lalu apa hubungannya dengan hormon yang terdapat pada hewan yang penulis maksudkan. Untuk memudahkan pembaca memahami hal tersebut. Penulis gambarkan… ibarat seorang Atlet lari, yang sebenarnya sudah mempunyai potensi berlari cepat, tetapi behubung dia minum obat “dopping”, maka larinya semakin cepat. Jadi daging Babi (ham) tersebut sama seperti obat “dopping” tersebut. Bila kita makan maka potensi membunuh pada manusia semakin kuat, apalagi bila ditambah dengan godaan Iblis…jalan menuju pembuhunan semakin membara.

Kenapa Babi dan Kera Haram, And Other Beast Animal – part 2

Hormon dalam daging Babi

Sebagian umat Kristen tidak mengetahui bahwa tidak hanya babi (termasuk babi hutan) yang dilarang untuk umat Islam, selain babi sebenarnya hewan yang dilarang dimakan juga adalah anjing, buaya, harimau, kucing., dan berbagai binatang buas lainnya (fredator).

Pernah seorang Kristen bertanya kepada penulis, kenapa umat Islam dilarang memakan anjing dan babi? Padahal bukankan Tuhan menciptakan semua itu untuk dinikmati oleh manusia (termasuk untuk dimakan). Apalagi daging anjing dan babi itu termasuk lezat dan nikmat (menurut pengakuan mereka yang biasa memakannya kepada penulis).

Pertanyaan ini bila kita jawab secara dogmatis, mungkin kita bilang karena Allah melarang umat Islam memakannya, maka kita diharamkan untuk memakannya titik.

Tentu jawaban seperti itu tidak masuk diakal umat Kristen dan umat Non Islam lainnya.

Apakah dilarangnya babi, karena binatang tersebut dikatakan kotor atau najis sehingga dilarang dimakan? Jawaban itupun akan mereka bantah karena bukankah ikan lele juga kotor, suka makan kotoran manusia).
Alasan lain yang sering dilontarkan oleh umat Islam berkaitan dengan dilarangnya makan babi karena daging babi mengandung cacing pita (tanea solium).
Cacing pita tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan manusia,. Cacing pita bila dimasak akan hancur/mati, tetapi telurnya berupa vulva baru dapat hancur setelah direbut di atas 140 derajat celsius, Bila kita merebus daging dengan demikian lalu jadi apa daging babi tersebut, kalau tidak jadi arang/gosong).
Tetapi jawaban ini pun akan dapat dibantah oleh umat Kristen dengan alasan kalau sebenarnya sapi juga mengandung cacing pita (tanea saginata) bahkan sapi juga mengandung penyakit mulut dan kuku, sapi gila (mad cow disease), antrax dan lain-lain.
Kalau cuma alasannya cuma cacing pita, logikanya daging sapi tentunya lebih berbahaya (lebih berisiko) daripada daging babi?
Belum terjawab masalah babi, penulis bertanya-tanya pula kenapa Allah melarang umat Islam memakan darah padahal darah kaya protein?
Ternyata darah hewan, sebenarnya hanyalah sampah bila dimakan manusia. Mengapa dikatakan sampah, sebab protein yang terdapat di dalam darah bila dimakan tidak dapat diserap oleh tubuh manusia bahkan berisiko tertular antrak;
Masalah darah telah terpecahkan, lalu mengapa Allah mengharamkan binatang-binatang yang mejijikkan, binatang buas, anjing, dan babi.
Ada apa dibalik “misteri” Allah melarang umat Islam memakan darah, bangkai dan daging babi (termasuk babi hutan) dan binantang buas lainnya. Hal ini telah lama menjadi beban pikiran penulis.
Allah, Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia, Ia juga Maha Pengasih dan Penyayang? Kalau demikian, mengapa Allah melarang Umat Islam memakan binatang-binatang yang mejijikkan, binatang buas, anjing, dan babi tersebut.
Apakah Allah telah menghukum Umat Islam sebagaimana ia pernah melarang umat Yahudi (Bani Israel) memakan hewan berkuku tunggal, lemak sapi dan domba?

Apakah Allah tidak menyayangi umat islam? Ibarat seorang anak yang meminta uang untuk membeli sepeda motor (sedang anak tersebut masih di kelas VI SD), tetapi si anak tidak diberikan uang tersebut (karena Ayahnya mempertimbangan usia si anak masih kecil, dan berbahaya naik sepeda motor), tetapi si anak tidak tahu pertimbangan ayahnya tersebut, dan bagi si anak akan menuduh Ayahnya pelit dan tidak adil dan tidak menyayanginya.

Mengapa Allah melarang umat Islam meminum alkohol, mengapa Allah melarang berzina, makan riba (bunga uang), makan daging babi dan berbagai larangan lainnya, Apakah Allah tidak adil terhadap umat islam?

Demikian berat larangan yang harus dibebankan kepada umat Islam. Belum lagi perintahNya harus berpuasa, harus shalat 5 kali sehari semalaman, membayar zakat, naik haji dan sebagainya yang “mungkin” bagi umat Non Islam dianggap sangat berat.
Sehingga dunia ini bagi orang Mukmin bila diandaikan adalah bagaikan neraka (sebab harus bersabar) sedangkan bagi orang kafir adalah surga. Dikaitkan dengan hal tersebut Allah telah menghibur Nabi Muhammad dan umatnya dalam Al Quran:

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”

“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Neraka Jahannam; dan Jahanam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya” (QS 3:196-197)

Dibalik semua larangan tersebut kata kuncinya hanya satu bahwa “Allah melarang sesuatu kepada umat-Nya tentunya karena mudharatnya (kerugiannya) lebih besar dari manfaat yang akan diperoleh” oleh umat Islam bila tidak mematuhi larangan tersebut.

Penelitian terakhir telah menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara perilaku seseorang dengan makanan yang biasa dimakan (dikonsumsi) seseorang. Hal ini berkaitan erat dengan hormon yang terdapat dalam daging atau makanan tersebut.
Kalau binatang yang biasa dimakan oleh seseorang tersebut adalah binatang buas (harimau, anjing, buaya), maka hormon yang terdapat pada hewan-hewan tersebut akan diserap oleh tubuhnya dan ia juga akan menjadi lebih agresif, ganas, dan suka membunuh.
Demikian pula bila dia suka memakan daging babi, maka bagaimanakah perilaku binatang babi yang memakan segalanya (omnifora), babi tidak sama dengan ikan lele, memang babi sama dengan ikan lele suka makan kotoran manusia.
Tetapi lihatlah sifat babi, babi adalah binantang yang agresif (suka menyerang) dan rakus. Selain itu adalah masalah seks, tidak usah dibilang. Babi terkenal mempunyai napsu seks yang tinggi (hiper) sehingga tidak mengherankan babi paling cepat beranak dan berkembang biak.
Masih banyak lagi sifat-sifat buruk babi yang perlu diteliti. Apakah jenis-jenis binatang herbifora (pemakan tumbuhan) seperti sapi, kambing dan unta bersifat agresif suka menyerang binatang lain (buruannya). Ternyata tidak, mereka adalah binatang sosial yang suka berkelompok mereka tidak pernah membunuh hewan lain (fredator) hanya untuk dimakan.

Sifat agresif tersebut akan tertanam dalam diri orang-orang yang suka makan binatang buas, babi dan anjing. Dalam bentuk suka berperang suka membunuh orang lain untuk memenuhi hawa nafsunya (sifat ini melekat kepada bangsa-bangsa yang suka menjajah dengan mengembangkan faham imperialisme dan kolonialisme) siapa mereka? NACH INI MEMANG SIFAT ORANG YAHUDI? (JADI SEKALI LAGI BISA JADI ANDA TERMAKAN BABI KETURUNAN YAHUDI YANG DIKUTUK ALLAH, udah dech jangan dimakan…daripada menanggung resiko)

Bangsa yang terkenal sebagai imperalis, kapitalis dan kolonialis adalah Amerika, Italia, Inggris, Perancis, Belanda, Spanyol, China, dan Jepang (apakah mereka beragama Islam atau Muslim?) Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging babi dan anjing. (tidak mengharamkannya)

Dengan demikian penulis baru menemukan korelasinya antara perilaku manusia dengan makanan yang mereka makan yaitu sifat agresif, rakus, haus seks dan individualis apa pada hewan-hewan yang dilarang Allah untuk memakannya (Maha Suci Allah, Subhanallah!).

Pasar Tradisional Jepang (Renungan)

Pagi semuanya… apa yang ingin saya bahas hari ini berbeda dengan persepsi kita tetang negara jepang ini. Apa ya? Kali ini kita tidak akan membahas teknologi yang ada di Jepang, bolehkan sekali sekali OOT (Out Of Topic)?
Apa yang kami bahas? Pasar Tradisional di Jepang sana, terutama pasar yang ada di daerah pertanian. Bingung kan???

Pasar tradisional 1 - roghuzshy

Pasar tradisional 1 - roghuzshy

Sebenarnya sih ini bukan pasar yah karena penjual disana adalah para petani yang membuka lapak sendiri-sendiri untuk menjual hasil kebunnya yang tersisa (kebanyakan).
Dan kalau dilihat, tidak ada bedanya dengan pasar yang ada di Indonesia, kecuali satu perbedaannya yaitu tidak ada orang yang menjaga untuk lapaknya tersebut.

Pasar tradisional di jepang 2

Pasar tradisional 2 - Roghuzshy

Jadi bagaimana transaksinya? mudah kok, mereka (si penjual) telah mencantumkan harga di setiap barang dagangannya dan apabila ada pembeli yang datang untuk membelinya, si pembeli cukup masukkan uang seharga barang yang dibeli ke tempat yang telah disediakan.
Dan percaya atau tidak, boleh dibilang hampir tidak ada satupun petani yang rugi karena berdagang dengan cara sepeti ini. Atau dengan kata lain, semua pembeli selalu membayar apa yang mereka ambil.

pasar tradisional jepang 3 - roghuzshy

pasar tradisional jepang 3 - roghuzshy

Nah, ini dia sebenarnya yang ingin kami bahas, yaitu KEJUJURAN yang menurut kami saat ini semakin langka di dunia, terutama di Indonesia.
Kami sempat membaca berita bahwa ada sekolah menengah di Indonesia yang mendirikan “kantin kejujuran” dan hanya dalam waktu hitungan minggu, kantin tersebut bangkrut karena ternyata banyak siswa/ siswi yang tidak membayar sehabis makan.
Padahal di lain sisi, kantin itu berada di salah satu sekolah favorit di daerahnya yang berarti pasti sebagian besar siswa/ siswi disana dari golongan cukup mampu.

pasar tradisional 4 - roghuzshy

pasar tradisional 4 - roghuzshy

Mohon maaf kalau kami tidak sependapat dengan anggapan bahwa “orang yang tidak jujur itu pasti identik dengan orang miskin” dan karena mereka tidak punya uang makanya mereka berbuat tidak jujur.
Menurut kami, KEJUJURAN bukanlah sesuatu yang bisa diukur dari banyaknya materi maupun tingkat pendidikan tetapi lebih ke moral dan rasa malu yang bisa ditanamkan oleh orang tua maupun lingkungan sekitar.
Dalam hal ini, kita tidak harus selalu mencontoh teknologi yang berasal dari Jepang saja tetapi tidak ada salahnya kita juga mencontoh moral dan rasa malu yang mereka miliki.
Benar, tidak semua orang Jepang disana jujur tetapi setidaknya kalau bicara persentase, tentu jauh lebih baik dari negara kita. Setuju kan dengan kita?
Semoga tulisan kami ini bisa menjadi suatu bahan renungan agar bangsa kita bisa menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang.

bagaimana dengan bangsa kita ini???

Hukum Menabur dan Memanen!!

Teman teman ada sedikit cerita nich.. sapa meminta teladan dari sini.. ayo.. membaca…!!!

Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat di selamatkan. Pemuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya.

Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah… Ayah pemuda ini sangat beterima kasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang, pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.

Si pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan si pemuda kedua adalah bangsawan yang kaya raya. Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita – cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah. Tetapi, ada seorang yang murah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan itu. Ia memberi beasiswa sampai akhirnya meraih gelar dokter.

Tahukah saudara nama pemuda miskin yang jadi dokter ini?
Namanya ALEXANDER FLEMING yang kemudian menemukan obat Penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang, ia terluka parah sehinga (roghuzshy.wordpress.com)menyebabkan demam yang sangat tingi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr.Fleming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan obat penemuan baru. Apa yang terjadi? berangsur- angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh!!!

Tahukah saudara siapa nama pemuda itu? Namanya adalah WINSTON CHURCHIL, PM Inggris yang termasyhur itu. Dalam kisah in kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Fleming menabur kebaikan, ia menuai kebaikan pula. Cita- citanya terkabul, ia menjadi dokter. Fleming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa churchil. Tidak sia – sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churchil?